Ismail Hasyim dan Moch Sahid : jmnc
Kabupaten Bangkalan untuk tahun 2018 ini ditetapkan KLB Difetri berdasarkan keputusan Bupati Bangkalan dikarenakan sejak awal tahun 2018 di Kabupaten Bangkalan sudah ditemukannya 4 penderita suspeck difteri yang mana ini sudah menurun dari tahun 2017 sebanyak 7 penderita suspeck difteri.
Oleh karena itu Dinas Kesehatan Bangkalan akan melakukan Outberak Responze Immunization (ORI) terhadap 289.040 anak secara riil dari usia 1 tahun sampai 19 tahun dan jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah karena Dinkes Bangkalan masih terus melakukan pendataan terhadap semua anak yang ada di Bangkalan.
Difteri ini disebabkan oleh kuman Corynebacterium Diphtheriae yang sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian akibat Obstruksi Larings atau Miokarditis akibat aktivasi Eksotoksin dengan gejala penderita akan mengalami demam sekitar 38 derajat Celsius, infeksi di tenggorokan atau kulit, adanya Pseudomembrane di tenggorokan dan sesak nafas serta berbunyi atau Stridor.
Pramudya Kasie Surveilans dan Imunisasi Dinkes kabupaten Bangkalan mengatakan capaian program ORI di Kabupaten Bangkalan sampai dengan bulan Februari ini sudah mencapai 35 persen dan kami menghimbau kepada teman teman pelaksana di lapangan untuk memberikan pemahaman terlebih dahulu tentang pelaksanaan Imunisasi agar sasaran tidak takut dan bagi sasaran Imunisasi dihimbau juga untuk tidak meninggalkan tempat terlebih dahulu kurang lebih 30 menit untuk menghindari terjadinya Kipi atau kejadian ikutan pasca Imunisasi karena Kipi itu kejadian yang biasa dalam Imunisasi.
Sedangkan gejala yang biasa terjadi pada pasca Imunisasi adalah panas yang berlangsung selama satu sampai dua hari karena untuk membentuk Antibodi dalam tubuh seseorang itu berbeda beda namun jangan khawatir karena biasanya petugas akan memberikan obat penurun panas pasca diimunisasi.









