Sumenep, jtvmaduranews.com – Lembaga pendidikan yang membuat resah masyarakat ini, berada di Pulau Sabuntan Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. dari resahnya akan lembaga tersebut, lembaga ini langsung mendapat kunjungan pihak kemenag dan Dinas Pendidikan serta pihak Kepolisian, guna mengatasi keresahan masyarakat agar cepat terjawab.
Kejanggalan yang terdapat di lembaga yang mengatasnamakan ponpes nurul hasan ini, hanya adanya satu gedung yang layak, namun didalamnya terdapat enam sekolah, ada RA, TK, MI, MTS, SMPI dan MA, padahal bangunan lantai dua ini belum berfungsi karena tidak ada tangganya.
Enam lembaga ini dinaungi Kemenag, dan beberapa lainnya dinaungi dinas pendidikan, sehingga mebuat masyarakat bertanya-tanya, saat Dinas Pendidikan dan Kemenag meminta buku induk dan absensi siswa, pengelola tidak dapat menunjukkan, padahal lembaga-lembaga tersebut mendapatkan kucuran dana bos.
“Tidak mendapatkan rapor dan ijazah, saat siswa yang lulus meminta pada pihak lembaga, alumni harus menebus hingga satu juta lima ratus ribu rupiah. kata Imaduddin , Tokoh Desa Sabuntan Kecamatan Sapeken.
“Selama ini tidak ada penahanan ijazah, setiap siswa yang lulus pasti mendapatkan ijasah, hanya saja ada alumni yang meminta ijasah namun orang yang bersangkutan tidak datang,” kata Gafur , pengelola lembaga.
Dari kasus tersebut, Kapolres Sumenep mengaku menyerahkan permasalahan dugaan lembaga fiktif ini ke disdik dan kemenag, agar dilakukan audit.
Tak hanya sampai disitu, berdasarkan kesaksian warga, pihak lembaga diduga menggelembungkan jumlah siswa, padahal dari enam lembaga yang ada, jumlah keseluruhan siswa hanya berkisar 50 orang, bahkan saat polisi mendatangi lembaga dimaksud, ratusan warga juga ikut mendatangi sekolah untuk menyaksikan langsung. (wildan)









