PAMEKASANjtvmaduranews.com– Industri batik sedang mengalami krisis di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang terjadi lebih dari satu tahun. Beberapa perajin batik mengeluhkan omzet penjualan yang terus mengalami penurunan.

Hal ini juga dialami oleh Sri Wahyuni Fatmawati warga Dusun Arsojih, Desa Pagendingan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Menurut Sri, sejak adanya imbas penyebaran virus Covid-19, banyak sekitar rumahnya memilih beralih pekerjaan dari awalnya perajin batik karena mengalami penurunan penjualan.  

“Saya mengalami penurunan omzet hingga 80 persen,” katanya, Senin (21/06/2021)

Uniknya, Sri tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19 untuk memproduksi dan mengembangkan usaha dari orang tuanya. Tujuannya tetap melestarikan budaya lokal turun temurun yang sudah dilakoni nenek moyangnya sejak jaman penjajahan belanda. Sri mengaku, sekarang dirinya mengandalkan penjualan online.

“Untuk penjualan saya itu melalui online. Jadi, kalau di persentasekan 100 persen itu, 80 persen online dan 20 persen offline. Jadi, memang memaksimalkan online karena pembelajaran dari adanya imbas pendemi ini,” ungkapnya.

Dengan adanya penjualan online dan permintaan dari luar masih lumayan banyak, membuat para perajin batik mulai bersemangat lagi untuk berkarya agar dapat bisa bertahan sampai pandemi ini mereda.

“Untuk satu bulan ini mungkin sekitar Rp. 5.000.000 sampai RP. 6000.000 itu kotornya. Untuk yang pesen batik saya itu ya sekitar Madura dan kabupaten lain di Jawa Timur, seperti Madiun, Surabaya dan Sidoarjo,” terangnya.

Sementara itu, pengelola batik Nyileha itu menambahkan tetap menjaga kualitas dan terus melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19. Harganya bervariasi tergantung pada jenis kain, proses produksi serta motif dari batik itu sendiri.  

“Harganya mulai Rp. 150.000 sampai Rp. 10.000.000,” pungkasnya. (Han/San).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here