Sungguh malang nasib Mahra’i 80 tahun, warga Dusun Tacempa Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan. Warga miskin yang hidup bersama istrinya yang sedang sakit parah ini tinggal di sebuah gubuk bambu yang dindingnya sudah lapuk dengan atap yang tak mampu lagi menahan terpaan air hujan.
Beginilah sang kakek yang hidup dalam kondisi serba kekurangan, kini istrinya yang terjangkit penyakit kelenjar getah bening hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur lantaran tak punya biaya untuk berobat. Mereka hanya bisa pasrah seraya berharab semoga keajaiban dari tuhan atas kesembuhan istri Mahra’i atau ibu dari ketiga anaknya.
Mahra’i dan keluarganya hidup di sebuah gubuk bambu yang sudah lapuk ber ukuran 3 x 4 meter, itupun sangat jauh dari kata layak karena selain dinding yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah lapuk gentengnyapun sudah tidak mampu menahan terpaan air hujan sehingga saat hujan turun Mahra’i beserta istrinya yang sedang sakit harus mengungsi ke rumah tetangganya untuk sekedar berteduh.
Mirisnya lagi kata Mahra’i sejak 2 tahun lalu keluarganya dijanjikan oleh perangkat desa yang datang ke rumahnya dan menjanjikan bantuan bedah rumah dalam program bantuan bedah rumah (RTLH), namun hal itu hanya janji belaka. Sementara di dalam gubuk derita keluarga Mahra’i ini ada tiga tempat tidur yang beralaskan tikar, dengan kondisi sesak Mahra’i, istri dan 3 anaknya tetap diam di gubuk itu. Mahra’i berharap adanya bantuan yang pernah dijanjikan oleh pemerintah itu bisa segera diulurkan walau hanya bisa mengobati penyakit istrinya. (Muhammad Zuhri)








