Berlebaran ke kampung halaman merupakan ritual rutin yang dilakukan masyarakat dalam menyambut hari raya Idul Fitri untuk bisa bersilahturahmi kepada sanak saudaranya. Ada sebagian masyarakat yang mudik lebaran menggunakan jalur darat misalnya dengan sepeda motor, bus dan kereta api. Ada pula yang menggunakan jalur udara seperti pesawat terbang dan jalur laut seperti kapal penumpang. Namun berbeda dengan warga di Desa Pegagan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan mereka justru menggunakan perahu ke kampung halamannya untuk bisa berlebaran bersama keluarganya.
Warga pendatang di Desa Pegagan tetap nekat berlayar menggunakan perahu kayu dari pelabuhan desa setempat. Begitu pula sebaliknya, warga Desa Pegagan yang merantau di luar pulau Madura seperti di Kabupaten Probolinggo, Besuki, Jember dan Situbondo juga menggunakan perahu mudik ke pulang kampung mereka. Mereka harus berjuang melawan maut di atas perahu kayu, berhadapan dengan angin dan ombak besar.
Abdullah salah satu warga di desa setempat mengaku sudah terbiasa menggunakan perahu saat mudik, pasalnya pekerjaan mereka rata-rata adalah nelayan. Dirinya juga mengatakan bahwa jika mudik menggunakan perahu biayanya lebih hemat dari pada menggunakan jalur darat atau menumpang kendaraan umum, “sekali jalan mas, para pemudik hanya membayar sebesar lima belas ribu rupiah per-orang”.
Selain mengangkut warga, perahu juga mengangkut berbagai barang yang dibawa warga seperti sepeda motor bahkan hewan ternak seperti sapi dan kambing yang nantinya dijual di kampung halamannya dan sebagian dikonsumsi bersama keluarga. Tradisi mudik lebaran menggunakan perahu ini sudah dilakukan bertahun-tahun, dan dalam perjalanannya jarak yang mereka tempuh ke kampung halamannya hanya sekitar 3 jam saja dan sudah sampai di Pelabuhan Kali Buntu Probolinggo. Sementara jika menggunakan jalur darat, perjalanan bisa ditempuh 5 hingga 6 jam dan mengeluarkan biaya yang lebih mahal. (Abdur Rahim)









