Pamekasan, jtvmaduranews.com – Salah satu kuliner khas Pamekasan adalah sate, makanan yang terbuat dari daging ini biasanya disajikan dengan porsi irisan daging yang agak besar. Tidak dengan sate lalat, sate ini adalah sate yang juga dari daging ayam maupun kambing namun yang membedakan sate lalat dengan sate lain yaitu irisan dagingnya yang kecil-kecil. Sate lalat ini bisa anda temui di kawasan Sae Salera Jl. Niaga Pamekasan yang penjualnya adalah Pak Ento alias Pak Dody warga Jl. Fetran.
Mebuat sate lalat ini tidaklah sulit, pertama yang harus dilakukan memilih daging baik ayam ataupun kambing kemudian
diiris kecil-kecil lalu ditusuk menggunakan potongan bambu berbentuk lidi atau di Madura dikenal dengan sebutan Sojjin, setelah itu diberi bumbu selanjutnya dibakar di atas arang sampai matang dan diberi kacang yang sudah dicampur kecap. Sate ini dinamakan sate lalat lantaran irisannya yang sangat kecil menyerupai lalat.
Pak Dody selaku penjual sate lalat mengaku kegemarannya menjual sate tersebut sudah turun-temurun dari orang tuanya yang bernama Pak Ento. Saat itu sekitar tahun 60-an Pak Ento sempat mencari ide untuk membuat sate yang berbeda dengan sate lainnya hingga akhirnya muncullah sate lalat dengan dagingnya yang kecil-kecil.
“dulu bapak saya jualan sate lalat dengan jalan kaki sambil dipikul, terus sekitar tahun 90-an baru saya menggantikan pekerjaan bapak” terang menantu Pak Ento yang biasa disapa dengan Pak Dody. Selain itu Pak Dody menambahkan penikmat sate lalat miliknya tidak hanya warga Pamekasan saja melainkan para pejabat Negara dari Jakarta hingga kalangan artis ibu kota banyak yang ketagihan dengan sate lalat buatanya.
Sate lalat terkenal dengan irisan dagingnya yang sangat kecil sehingga tidak heran untuk membuat sate tersebut terkadang membutuhkan waktu yang lama untuk mengirisnya. Proses pengirisan daging hingga menusuk daging kecil-kecil membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam dengan menghasilkan kurang lebih 5.000 tusuk sate, itu pun Pak Dody harus dibantu anak dan dua pekerjanya. Kemudian irisan daging kecil yang sudah ditusuk tersebut siap dijual di tempat ia mangkal tepatnya di pojok perempatan Jl. Niaga inilah Pak Dody menjual sate lalatnya dengan cara lesehan mulai sore hingga dini hari.
Salah satu penikmat sate lalat yakni Baihaki mengatakan tidak hanya satenya yang enak tapi juga dipadu dengan lontong, selain itu ada juga nasi putih bagi pembeli yang tidak suka lontong. Soal harga sate lalat ini sangat terjangkau yaitu untuk satu porsi sate lalat dipatok 10 hingga 15 ribu rupiah. (zuhri)









