Kemarau panjang yang melanda membuat sejumlah warga di Desa Akor, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan menggelar Ritual Okol atau Gulat. Ritual ini merupakan tradisi nenek moyang atau turun temurun yang dilakukan agar turun hujan. Ritual ini dilakukan harus mematuhui peraturan yang ada seperti bersalaman sebelum bertanding serta berjanji tidak akan ada balas dendam usai acara okol gelar, setelah itu dari masing-masing peserta harus bisa menjatuhkan lawannya dengan cara bahunya harus menyentuh tanah.

Tradisi ini diikuti dari delapan kecamatan yakni Kecamatan Palengaan, Pakong, Pegantenan, Pademawu, Tlanakan dan Kecamatan Kota, serta Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. Ribuwan warga pun memadati lapangan tersebut hingga berdesak-desakan untuk menonton. Menurut Rosidi panitia pelaksana tradisi okol mengatakan tradisi tersebut biasa dilakukan ketika musim kemarau yang panjang dengan harapan agar nantinya hujan cepat turun, sehingga warga setempat tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih dan bias bercocok tanam.

Mustofa salah satu peserta mengaku senang mengikuti tradisi tersebut sebab dari awal dirinya tidak pernah kalah oleh karenanya Mustofa mendapatkan bingkisan berupa kaos dari panitia. Dan tak kalah pentinya, para peserta tidak boleh ada yang terpancing emosi sehingga apapun yang terjadi harus sama-sama menerimanya dengan lapang dada. Selain itu warga juga meyakini hujan akan turun kurang lebih satu mingu dari hari setelah ritual okol ini. (Muhammad Zuhri)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here