Ismail Hasyim dan Moch Sahid : jmnc

Sosok Haji Fatkurrahman, atau yang lebih dikenal dengan Ji Kur, yang ingin terus melestarikan budaya budaya asli Madura warisan leluhur agar tidak tenggelam ataupun punah, khususnya balapan kuda tradisional Madura tanpa memakai pelana.

Kecintaan Ji Kur terhadap kuda ternyata juga didukung oleh keluarganya, baik itu isterinya dan anak anaknya, sehingga menambah motivasi tersendiri bagi Ji Kur, untuk terus menekuni hobinya tersebut.

Pacuan kuda tradisional Madura ini, memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan pacuan kuda seperti yang biasanya kita lihat, karena Joki dari pacuan kuda tradisional ini, tidak memakai pelana dan Joki hanya berpegangan pada tali kekang yang dililitkan di leher kuda, serta trek yang digunakan dalam pacuan kuda ini lurus.

Haji Fatkurrahman, ketua panitia lomba mengatakan. Ini adalah  satu satunya balapan kuda tradisional lurus tanpa pelana, kalau yang biasanya kan memakai pelana ,sehingga Joki dari balapan kuda sangat satria banget, yang ada di Madura khususnya di Bangkalan. Sehingga ke depan dengan semakin banyaknya masyarakat yang menyukai balapan kuda ini,  diharapkan  akan banyak muncul peternak kuda di Bangkalan, sehingga pemilik kuda tidak membeli kuda dari luar karena harga kuda ini sangat mahal.

Dalam pacuan kuda kali ini yang diadakan Club Tretan Stable di lapangan kuda sendang dajah labang Bangkalan, diikuti sebanyak 60 kuda yang bertanding dalam empat kategori yang di lombakan, dan salah satu kuda dari Tretan Stable yang bernama parabu, menjadi salah satu primadona dalam lomba pacuan kuda ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here