Sumenep, jtvmaduranews.com – Adapun cara yang dilakukan tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dengan melakukan kegiatan rapidtest massal.

Namun berbeda, kali ini kegiatan, kegiatan rapid test di Masjid Jamik Sumenep, diwarnai dengan insiden penolakan yang dilakukan pihak Takmir Masjid, Ketua Takmir Masjid Jamik Sumenep Husen Satriwawan mengaku terkejut saat melihat petugas menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) tiba di kompleks masjid, pihaknya mengaku tersinggung karena pelaksanaan rapid test tanpa koordinasi dengan dirinya.

Husen mengaku, bahwa tidak pernah mendapat pemberitahuan soal pelaksanaan tes terkait Covid-19 di Masjid Jamik, pihaknya menegur Bupati Sumenep Abuya Busyro Karim yang dinilai mengambil keputusan tanpa persetujuan warga lokal dan pengurus masjid. 

“Memang masjid ini punya umat islam, tapi didalam masjid ini masih ada pengurusnya,” tegas Takmir Masjid Jamik Sumenep.

Sementara  dari insiden penolakan tersebut Bupati Sumenep Abuya Busyro karim meminta maaf, pihanya menyampaikan sejak awal rencana pelaksanaan rapid test dilakukan dengan cara di acak di wilayah Kabupaten Sumenep, sehingga pihaknya menilai tidak perlu melakukan koordinasi.

“Dalam gelar kegiatan rapid test secara acak ini memang ingin terus berjalan, pihak gugus depan Covid-19 Sumenep, ingin memiliki data dan mengetahui masyarakat yang terindikasi Covid-19 di Sumenep,” kata Bupati Sumenep.

Beruntung dalam insiden ini Bupati Sumenep dingin dalam menyikapi hal tersebut dan tak menginginkan permasalahan tersebut menjadi besar, bahkan pihaknya  hanya akan tetap fokus bagaimana memutus mata rantai Covid-19, agar Sumenep kembali ke zona hijau.

Sumenep, jtvmaduranews.com – Adapun cara yang dilakukan tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dengan melakukan kegiatan rapidtest massal.

Namun berbeda, kali ini kegiatan, kegiatan rapid test di Masjid Jamik Sumenep, diwarnai dengan insiden penolakan yang dilakukan pihak Takmir Masjid, Ketua Takmir Masjid Jamik Sumenep Husen Satriwawan mengaku terkejut saat melihat petugas menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) tiba di kompleks masjid, pihaknya mengaku tersinggung karena pelaksanaan rapid test tanpa koordinasi dengan dirinya.

Husen mengaku, bahwa tidak pernah mendapat pemberitahuan soal pelaksanaan tes terkait Covid-19 di Masjid Jamik, pihaknya menegur Bupati Sumenep Abuya Busyro Karim yang dinilai mengambil keputusan tanpa persetujuan warga lokal dan pengurus masjid. 

“Memang masjid ini punya umat islam, tapi didalam masjid ini masih ada pengurusnya,” tegas Takmir Masjid Jamik Sumenep.

Sementara  dari insiden penolakan tersebut Bupati Sumenep Abuya Busyro karim meminta maaf, pihanya menyampaikan sejak awal rencana pelaksanaan rapid test dilakukan dengan cara di acak di wilayah Kabupaten Sumenep, sehingga pihaknya menilai tidak perlu melakukan koordinasi.

“Dalam gelar kegiatan rapid test secara acak ini memang ingin terus berjalan, pihak gugus depan Covid-19 Sumenep, ingin memiliki data dan mengetahui masyarakat yang terindikasi Covid-19 di Sumenep,” kata Bupati Sumenep.

Beruntung dalam insiden ini Bupati Sumenep dingin dalam menyikapi hal tersebut dan tak menginginkan permasalahan tersebut menjadi besar, bahkan pihaknya  hanya akan tetap fokus bagaimana memutus mata rantai Covid-19, agar Sumenep kembali ke zona hijau.

Akibat insiden tersebut, pemeriksaan massal menyangkut virus pandemi Covid-19 ini terpaksa berhenti di tengah jalan, rapid test hanya berlangsung 30 menit dan tim Covid-19 Sumenep hanya berhasil mendapatkan 30 sampel warga yang sudah berhasil melakukan rapid test.(wildan)

Akibat insiden tersebut, pemeriksaan massal menyangkut virus pandemi Covid-19 ini terpaksa berhenti di tengah jalan, rapid test hanya berlangsung 30 menit dan tim Covid-19 Sumenep hanya berhasil mendapatkan 30 sampel warga yang sudah berhasil melakukan rapid test.(wildan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here