Sumenep, jtvmaduranews.com – Aksi unjuk rasa ribuan warga di depan Kantor DPRD Sumenep, diwarnai dengan insiden penyanderaan seorang camat.
Penyanderaan berawal saat hasil yang menjadi tuntutan di DPRD setempat, tidak memuaskan.
Warga menuntut bakal calon kades yang diusungnya dapat masuk ke daftar calon kepala desa, yang pada saat tes seleksi memperoleh nilai rendah ketimbang bakal calon yang lain, karena diduga tes seleksi cakades ada permainan.
Ribuan warga kemudian menyandera seorang camat, untuk menyelesaikan apa yang menjadi tuntutan warganya. Ribuan warga meminta bakal calon atas nama Noer Mahenny bisa mencalonkan kepala desa, karena dinilai mempunyai pengalaman di pemerintahan.
Jika tuntutan tersebut tidak diindahkan, ribuan warga mengancam akan menggagalakan pemilihan kepala desa.
“Kami merasa kecewa dengan kedatangan kami di kantor DPRD ini, karena jawaban kepala DPMD saya bilang tidak fair. Jadi apapun yang akan dilakukan saya akan pasrahkan kepada massa. Melaporka panitia juga pasti. Kemudian langkah yang akan dilakukan masyarakat untuk bagaimana membatalkan pelaksanaan kepala desa.” Kata Edi Junaidi, korlap aksi.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, menyampaikan, jika dari hasil keputusan seleksi calon kepala desa dinilai ada indikasi kecurangan atau keberpihakan panitia, kepada pihak yang merasa dirugikan dan sudah memiliki bukti yang kuat, untuk segera melaporkan permasalahan tersebut melalui jalur hukum yang ada.
“Ketika ada para pihak yang menemukan nyata-nyata ada ketidak beresan di bagian panitia silahkan laporkan. Tidak puas silahkan proses secara hukum.” Kata Moh. Romli, Kepala BPMD Sumenep.
Sementara, karena masih tidak ada keputusan yang memuaskan, terpaksa bakal calon yang gagal dalam tes seleksi akan menempuh jalur hukum untuk menemukan titik terang kebenara. (wildan)









