Sumenep, jtvmaduranews.com – Diujung Timur Pulau Madura, tepatnya di desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dan sekitarnya, warga setempat memiliki tradisi Nyadar atau tradisi berziarah kemakam sesepuh yakni Syekh Anggasuto salah seorang Wali Allah, yang dipercayai sebagai penemu cara pembuatan garam di Kabupaten Sumenep.
Tradisi nyadar sendiri digelar sebanyak 3 kali dalam setahun, nyadhar pertama dan kedua di gelar ketika memasuki musim penggarapan tambak garam atau memasuki musim kemarau sementara nyadar ketiga di lakukan terakhir ketika hendak masuk pergantian musim dari kemarau ke musim hujan.
Namun pada Nyadar kali ini sedikit berbeda dengan Nyadar sebelumnya , disuasana pandemi covid-19 seluruh warga yang akan mengikut ritual nyadar harus mematuhi protokol kesehatan, dengan memakai masker dan mencuci tangan, bahkan Nyadar yang selalu di indentik dengan makanan khas reginang ukuran besar saat ini tidak ada, hal tersebut dikarenakan, pasar kuliner khas Nyadar di suasana pandemi tidak diijinkan berjualan.
“Meski di suasana pandemi kali ini dengan menggunakan protokol kesehatan, ritual Nyadar tetap berjalan seperti biasanya, meskipun pasar kuliner khas Nyadar tidak di ijinkan, hal tersebut tidak mengurangi dan mengganggu ritual, sebab pasar tersebut bukan pelengkap dalam ritual Nyadar,” kata H.Abdurrahman, pengurus lembaga Asta Gubeng laok songai.(wildan)









