Sumenep – Asta tinggi atau pasarean Raja-Raja Sumenep merupakan tempat wisata religi nomor satu. Pasalnya selain banyak dikunjungi para peziarah, Asta Tinggi juga terkenal dengan kekeramatannya. Namun demikian banyak pengunjung yang masih tidak mengetahui sejarah Asta Tinggi tersebut.
Sebenarnya kata Asta Tinggi ini berasal dari bahasa halus Madura yaitu “Asta Tenggih” yang artinya “Asta” itu tempat pasarean sedangkan “Tenggi” adalah lokasi pemakaman para raja yang berada di ketinggian atau perbukitan di Desa Kebunagung Kecamatan Kota Sumenep, sehingga untuk datang ke tempat wisata ini kita harus melewati jalan yang menjulang tinggi.
Setelah melalui jalan yang cukup tinggi, para pengunjung dapat melihat pemakaman Raja-Raja Sumenep yang dikelilingi pagar tinggi yang terbuat dari batu kapur.
Uniknya pagar tinggi yang terbuat dari batu kapur ini hanya disusun rapi tanpa menggunakan perekat atau semen, namun kekuatannya melebihi dari tembok beton. Tak ayal saat para peziarah tiba di lokasi, mereka merasa heran dengan tembok tersebut.
Selain itu, para pengunjung juga tak menyangka bahwa bentuk bangunan di dalam Asta Tinggi merupakan campuran dari berbagai negara seperti Negara Belanda, Arab, Perancis, Itali, dan Cina.
Salah satu juru kunci Asta Tinggi yakni Junaidi mengatakan, Asta Tinggi merupakan sejarah cerita rakyat Kabupaten Sumenep yang saat ini menjadi pusat wisata religi karena selain memiliki keistimewaan dalam bangunannya, Asta Tinggi juga diyakini bisa membawa berkah bagi para peziarah.
“Biasanya mas, sebelum berziarah ke makam atau pasarean Sri Sultan Abdurahman, para pengunjung disuruh ke makam Pangeran Jimat dan Bindara Saod duluan, karena menurut sejarah. Raja-Raja Sumenep pertama kali adalah Pangeran Jimad dan Bindara Saod, baru Sri Sultan Abdurrahman sebagai raja terakhir”. Ungkap Junaidi dengan logat maduranya. (roni)









