Ismail Hasyim : jmnc
Bangkalan – Kabar tentang adanya sebuah batu yang dapat mengeluarkan bunyi ning ning ning, yang ada di Bangkalan membuat rasa penasaran saya timbul dan ingin melihat secara langsung batu tersebut. Akhirnya bersama seorang wartawan senior dari media cetak yang bertugas di Bangkalan yang mempunyai keinginan yang sama akhirnya kami berangkat ke lokasi batu tersebut.
Akhirnya kami sampai ke lokasi batu tersebut. Batu yang kami cari tersebut berwarna putih berbentuk setengah bulat dan berada di atas batu yang lain. Akhirnya kami mencoba memukul batu tersebut dengan batu yang ada disekitarnya, untuk menghilangkan rasa penasaran kami. dan setelah dipukul batu tersebut benar-benar mengeluarkan bunyi ning ning ning, seperti halnya cerita yang pernah kami dengar. Kamipun mencoba memukul batu yang dibawahnya yang menopang batu tersebut. Namun batu tersebut tidak dapat mengeluarkan bunyi seperti batu yang di atasnya.
Keberadaan batu di daerah tersebut juga tidak terlepas dari cerita dongeng atau legenda yang ada di masyarakat setempat. Seperti yang saya kutip dari buku Mortheka Dari Madhura edisi kabupaten Bangkalan yang ditulis Iqbal Nurul Azhar yang diterbitkan Balai Bahasa Jawa Timur, bahwa konon batu tersebut dibawa oleh seorang raksasa bhuto ijo yang oleh orang Madura disebut Lang Deur. Atas perintah seorang raja besar di Pulau Jawa dari belahan bumi jawa bagian timur untuk dibawa ke seorang empu yang berada di Madura (Pamekasan), untuk dijadikan pusaka kerajaan. Namun karena batu itu sangat berat sehingga tidak ada satupun yang dapat mengangkatnya. Maka sang raja mengadakan sayembara bahwa barang siapa yang dapat mengangkat batu tersebut dan membawanya ke empu tersebut maka dia akan diberikan tanah di ujung barat pulau jawa. Akhirnya sang bhuto ijopun menyanggupinya.
Singkat cerita dengan tubuh besarnya sang bhuto ijopun tanpa kesulitan mengangkat dan membawa batu mustika tersebut melewati gunung, lembah bahkan selat Madura pun dapat dia lalui dengan mudah. Yang menjadi hambatan dalam perjalanannya hanya batu mustika tersebut yang semakin lama semakin besar dan bertambah berat. Akhirnya sang butoijopun beristirahat dan tertidur. Setelah bangun dia kaget dan ingat bahwa waktu untuk membawa mustika tersebut tinggal satu hari lagi, dari tujuh hari yang dia janjikan. Akhirnya dia bergegas membawa batu tersebut. Namun karena batu tersebut semakin berat maka sang bhuto ijopun mengikat batu tersebut dengan pohon kelor dan memikulnya. Akhirnya diapun berlari namun untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak sewaktu dia berlari di depannya ada sebuah bukit karang yang mana bukit karang tersebut sekarang berada di perbatasan kecamatan Socah dan kecamatan Kamal.
Disekitar bukit karang tersebut terdapat sebuah makam yang kini dikenal dengan makam cempah yang konon mempunyai kekuatan ghaib yang memiliki daya seperti magnet. Akhirnya daya magnet tersebut membuat batu mustika tersebut semakin berat dan saat bhuto ijo melompati bukit karang tersebut pohon kelor itu patah dan batupun meluncur ke tanah membentur karang akhirnya terbelah menjadi dua. Satu bagian jatuh di daerah yang sekarang dikenal dengan gunung jadddih yang ada di kecamatan Socah, sedangkan satunya lagi jatuh di daerah yang kita kenal sekarang di Desa Pendabah. Lokasi yang kedua ini dekat dengan tempat pendaratan bhuto ijo ketika melompat. Adapun kedua batu itu sampai sekarang masih ada dan dikenal dengan nama batu cenning yang namanya diambil dari karakteristik batu itu yang ketika diketuk berbunyi ning ning ning.
Seperti yang disampaikan Fadhur Rosi salah satu tokoh masyarakat setempat, batu cenning bagi masyarakat Jaddih dan Pendabah sudah melegenda bahkan sebagian masyarakat mempercayai kebenaran dari cerita tersebut bahkan dia pernah mendengar dari ayahnya kalau batu tersebut dipukul suaranya bisa kedengaran sampai ke kecamatan socah kurang lebih 10 kilometer jarak batu cenning ke kecamatan socah namun karena sempat dikencingi maling bunyi dari batu tersebut tidak senyaring dulu.
Namun sayangnya keberadaan batu tersebut masih belum dimanfaatkan dengan baik oleh pemda setempat seandainya dapat dikelola dengan baik tidak mustahil batu cenning tersebut dapat menjadi destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang mana dapat menghasilkan pad bagi pemda setempat.









