PAMEKASAN, jtvmaduranews.com – BPJS Kesehatan terus memantapkan pendekatan promotif dan preventif sebagai upaya strategis menjaga keberlangsungan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Melalui berbagai edukasi kesehatan, salah satunya dengan membiasakan olahraga rutin dan menerapkan pola makan bergizi seimbang.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pamekasan, Galih Anjung Sari, menilai tingginya pembiayaan penyakit katastropik menjadi alarm pentingnya penguatan pencegahan. Sepanjang 2025, BPJS Kesehatan mencatat pembiayaan lebih dari Rp50 triliun untuk sekitar 59,9 juta kasus penyakit katastropik, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, dan kanker.
“Data tersebut menunjukkan beban penyakit katastropik sangat besar, tidak hanya dari sisi pembiayaan, tetapi juga dampaknya terhadap kualitas hidup masyarakat. Padahal, sebagian besar penyakit itu dapat dicegah dengan kebiasaan hidup sehat,” kata Galih, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan, aktivitas fisik ringan memiliki manfaat besar jika dilakukan secara konsisten. Masyarakat, kata dia, tidak harus melakukan olahraga berat untuk menjaga kebugaran tubuh.
“Salah satu yang kami dorong adalah Gerak Sehat 335, yakni jalan santai tiga menit, dilanjutkan jalan cepat tiga menit, dan diulang lima kali hingga mencapai 30 menit. Pola ini mudah, praktis, dan bisa dilakukan oleh siapa saja,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Dokter Spesialis Paru, Mokhammad Mukhlis menegaskan bahwa pencegahan merupakan kunci utama menekan risiko penyakit kronis. Menurutnya, biaya pengobatan jauh lebih besar dibandingkan upaya preventif yang relatif sederhana.
“Mencegah jelas lebih murah dan lebih mudah daripada mengobati. Jalan kaki saja, jika dilakukan rutin, sudah sangat efektif untuk menjaga kesehatan,” tutur Mukhlis.
Ia menyarankan aktivitas jalan kaki dilakukan setiap hari sekitar 30 menit, terutama pada pagi hari. Namun, Mukhlis menyoroti gaya hidup masyarakat modern yang cenderung kurang bergerak dan tinggi konsumsi makanan cepat saji.
“Kemudahan layanan pesan antar makanan membuat aktivitas fisik semakin berkurang. Jika pola ini terus berlanjut, risiko penumpukan penyakit akan semakin besar,” ucapnya.
Selain olahraga, Mukhlis juga mengingatkan pentingnya menjaga pola makan sesuai anjuran. Ia menyebutkan batas konsumsi harian, yakni garam maksimal 5 gram, gula 50 gram, dan lemak sekitar 67 gram per hari sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Kurang bergerak dan pola makan tidak seimbang dapat memicu penumpukan lemak, penyempitan pembuluh darah, hingga berdampak pada kesehatan pernapasan,” katanya.
Mukhlis menegaskan bahwa menerapkan pola hidup sehat tidak selalu membutuhkan biaya mahal, melainkan komitmen dan konsistensi. Ia juga mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan skrining kesehatan sebagai langkah deteksi dini.
“Pola hidup sehat itu sederhana dan terjangkau. Dengan mengatur pola makan, rutin berolahraga ringan, serta melakukan skrining kesehatan secara berkala, kondisi tubuh bisa terpantau tanpa harus menunggu sakit,” pungkasnya. (*/MH)









